KETIKA KATA MENEMUKAN RUMAHNYA

Spesifikasi Buku;
Judul: KETIKA KATA MENEMUKAN RUMAHNYA
Penulis: Astri Desy Yanti, S.Pd.
ISBN: Sedang dalam proses
Penerbit: PT Ofam Global Indonesia
Jumlah Halaman: 85 + viii
Ukuran: A5/ 148 x 210 cm
Cover: Soft Cover
Isi: Hvs
Cetak Isi: Black and White
Buku ini dapat dipesan melalui W.a 08-1213-1516-72
Sinopsis:
Namaku Zeandra Anindya Putri, tapi anak-anak di sekolah lebih suka memanggilku Bu Zea. Aku seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah SMA di pinggiran kota. Setiap pagi aku menyambut wajah-wajah remaja dengan seragam putih, abu-abu dan mata yang lelah menatap layar bukan layar buku, tapi layar ponsel.
Awalnya, pemandangan itu membuatku resah. Di kelas, jemari mereka begitu lincah menari di atas gawai, tapi kaku ketika diminta menulis di kertas. Mereka bisa bertahan berjam-jam menonton konten, tapi gelisah ketika harus membaca tiga halaman cerpen. Aku bertanya dalam hati: Apakah literasi benar-benar kalah dari notifikasi?
Namun, semakin aku mengamati, semakin aku sadar mungkin aku yang harus berubah cara pandang. Mereka bukan tak mau membaca atau menulis, mereka hanya belum menemukan bahwa membaca dan menulis juga bisa hidup di dunia yang mereka kenal. Dunia layar, aplikasi, dan jejaring digital.
Malam itu, aku duduk di ruang kerja kecil di rumah, secangkir teh melengkapi pikiranku yang bergolak. Aku membuka laptop dan menatap kosong ke layar. Di seberang sana, ada dunia yang tak bisa kuabaikan, dunia digital yang begitu akrab bagi siswaku.
“Kalau mereka tak mau datang ke buku, mungkin buku yang harus datang ke mereka,” gumamku.
Dari situlah ide itu lahir menggunakan teknologi sebagai jembatan literasi. Aku membayangkan kegiatan membaca dan menulis yang tidak lagi kaku, tapi hidup di ruang yang mereka sukai: di layar ponsel mereka sendiri
Sejak saat itu, aku mulai berpikir ulang. Jika dunia mereka kini berada di layar, mengapa aku harus menjauh darinya? Mengapa tidak menjadikan gawai yang mereka genggam setiap saat itu sebagai jembatan, bukan jurang?
Sebuah gagasan sederhana namun penuh harapan:
Menghidupkan kembali budaya membaca dan menulis melalui teknologi yang mereka cintai.
Bagaimana kelanjutan cerita ini?
Selamat membaca!
